Selasa, 03 Desember 2013
Awalnya diceritakan di kahyangan
ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal
mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi
hutan (celeng) bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi
anjing bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan
bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi
kembali.
Diceritakan bahwa Raja Sungging
Perbangkara tengah pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni
yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain
disebutkan air kemih sang raja tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan
betina bernama Celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia
kemudian tanpa sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara
ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia
adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja
yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke
keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi
tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran
yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.
Akhirnya para raja saling
berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri
mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si
Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah
digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa
malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang
mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan
dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang
mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu
Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi
si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup
hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke
wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi
bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang.
Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama
Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.
Suatu ketika Dayang Sumbi tengah
mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si
Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi
tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor
babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk
mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang
mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si
Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan
panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang
terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan
buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya.
Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan
dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati
si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala
Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga
terluka.
Sangkuriang ketakutan dan lari
meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir
anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk
segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih
dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan
anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan
tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi
mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa
sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi
seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama
berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar
telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak
mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya.
Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka
Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak
menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua
insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang
Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa
Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan
sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya.
Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk
menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi
meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu
semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah
pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung
Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung
Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir
selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar
niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh
rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai
fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah
Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari
menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang
Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya,
bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro
dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan
menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun
menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah
ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang
Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya
itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun
memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun
berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di
sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib
(ngahiyang).
0 komentar:
Posting Komentar