Selasa, 03 Desember 2013
Di
sebuah desa terpencil di Siam,
Mak (Winai Kraibutr) akan
dikirim untuk bertempur dalam sebuah perang dan harus
meninggalkan istrinya yang sedang hamil,
Nak (Intira Jaroenpura) yang
mengantar kepergian Mak dalam kesedihan yang mendalam. Dalam perang tersebut,
Mak terluka dan nyaris tidak selamat, namun dia berhasil kembali ke rumahnya
untuk bersatu kembali dengan istri dan anak yang mencintainya, atau begitulah
yang dia pikir sedang terjadi. Setelah pulangnya Mak, peristiwa-peristiwa
misterius dan menakutkan pun mulai terjadi di sekitar desa tersebut.
Seorang
teman Mak mengunjunginya dan melihatnya hidup bersama dengan Nak. Para penduduk
desa yang mengetahui bahwa Nak sebenarnya telah meninggal dalam proses persalinan
anak Mak beberapa bulan sebelumnya, menyadari apa yang terjadi, bahwa Mak telah
terpesona oleh hantu
Nak. Hantu Nak menjadi semakin tidak tenang dan agresif karena
ketidakmampuannya untuk menerima kenyataan bahwa dirinya telah meninggal dini
dan keputusasaan karena tidak bisa hidup dengan suami yang sangat dicintainya.
Orang-orang desa yang berusaha untuk memberitahu Mak, atau yang tahu terlalu
banyak, berakhir tewas dibunuh satu per satu oleh hantu Nak.
Menjelang
akhir, Mak akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia sangat
terkejut dan ketakutan sehingga melarikan diri ke kuil setempat. Para penduduk
desa yang bermaksud baik mencoba menolongnya dengan beberapa cara, di antaranya
membakar rumah yang dihuni hantu Nak dan pada akhirnya memanggil seorang
pengusir hantu yang mistis untuk menghancurkan dahi tengkorak
jasad Nak (hal ini adalah kepercayaan mistis Siam yang dipercaya akan
menghancurkan jiwa serta hantu seseorang).
Biksu
Buddha
kenegaraan yang paling dihormati bernama Somdej To tiba di saat-saat terakhir kisah
ini, mengambil alih usaha untuk menolong Mak. Dalam perpisahan yang dipenuhi
tangis kesedihan, hantu Nak akhirnya bertobat, meninggalkan Mak agar suaminya
tersebut dapat menjalani sisa hidupnya. Somdej To mengambil pecahan tulang dahi
tengah dari tengkorak Nak dan membuat bros ikat pinggang
dan memakainya sepanjang sisa hidupnya. Epilog kisah ini kemudian menceritakan
bahwa bros tersebut kemudian menjadi milik Yang Mulia Pangeran
Chumbhorn Ketudomsak.
Lalu, diwariskan kepada banyak pewaris tanpa diketahui lagi sampai sekarang
tidak ada yang tahu di mana artifak tersebut.
Kuil
untuk Mae Nak ("Nyonya Nak") di Wat Mahabut ("Kuil
Mahabut") di Sukhumvit Soi 77 ("Jalan Sukhumvit 77") di kawasan Suan Luang, Bangkok.
Cerita
tentang Mae Nak Phra Khanong terkenal dan menjadi
favorit di antara orang Thailand. Ada sebuah kuil didedikasikan untuknya di On
Nut, Sukhumvit Soi 77 di daerah Suan Luang, Bangkok
(sebelumnya bernama Phra Khanong).
Kisah
ini telah digambarkan dalam beberapa film sejak era film bisu,
dengan salah satu yang paling terkenal adalah Mae Nak Phra Khanong
pada tahun 1958.
Bahkan setelah film versi tahun 1999
ini, sineas asal Britania Raya
Mark Duffeld menyutradarai
ulang pada tahun 2005 disebut Nâak Rák Táe ("Cinta Sejati Naak").
Legenda ini juga diadaptasi menjadi sebuah opera, Mae Nak, oleh komposer
Thailand Somtow Sucharitkul.
0 komentar:
Posting Komentar